kali ini dia kembali. tidak, dia bukan aku. dia adalah dia, dan dia menginginkan sesuatu yang baru di tempat ini.
maka dia datang, dan dia berniat mengubah semuanya. lebih dari setahun telah mengubah hidupnya. ia sekarang hidup dalam dunianya sendiri, dengan berbagai nama dan persona. berinteraksi dengan berbagai orang, yang juga memiliki banyak nama dan persona. tidak di tempat yang berlainan, tidak. walaupun di saat yang bersamaan, ya. mereka banyak—mereka bukanlah satu. namun di dunia lain, mereka adalah satu. ia menikmatinya, dan dunianya ada di tempat itu.
dunianya, ada di sana.
ia akan hidup di dunia itu hingga ia bosan dan mencari sesuatu yang baru.
dan perjalanan pun dimulai.
bukannya susah tidur.
hanya tak mau tidur.
aku harus bangun jam tiga, jadi sepertinya lebih baik kalau aku tetap terjaga daripada harus tidur untuk kemudian bangun lagi beberapa jam kemudian. lagipula, aku bisa tidur siangnya. tak masalah untukku.
kali ini tentang Argent.
aku harus mendahulukan dia sebelum aku lupa, jadi jangan protes, ya?
Argent, Argent, Argent….
apa yang bisa kukatakan tentangnya? dia sempurna, oke, di mataku dia sempurna.
ganteng, baik, pintar. matanya yang ramah berwarna perak—sebenarnya abu-abu. tapi aku lebih suka menyebutnya “perak”. dia sempat tinggal di fith setahun atau dua, dan itu menjelaskan kefanatikannya akan teknologi terbaru. ia tak pernah lepas dari komputer mininya sedetik pun—kecuali mungkin saat tidur.
awalnya ia sempat heran melihat gaya hidup sederhana kami di sini, dan ia sempat bertanya-tanya mengapa lengan kiri Haze tak ada. tapi setelah Haze mengajaknya bicara di pinggir danau minggu lalu, ia tampak sedikit lebih bisa memahami kenapa kami di sini hidup begitu sederhana… begitu konvensional.
dan Argent pun mulai bisa dekat dengan kami di sini yang sebelumnya ia anggap aneh.
syukurlah….
sampai nanti!
beberapa hari yang lalu ada orang baru yang pindah ke desa tempatku tinggal.
ada tiga, sebenarnya. seorang pria tua dan dua orang anaknya.
mereka tak sepenuhnya asing, sih, mereka pernah berkunjung ke sini kira-kira dua kali. istri dari pria tua itu tinggal di sini, dan saat si pria tua itu pensiun dari pekerjaannya, ia memutuskan untuk tinggal di desa saja bersama dengan istrinya untuk melewatkan hari tua bersama.
ia membawa dua anaknya, laki-laki dan perempuan.
yang laki-laki namanya Argent.
yang perempuan Melody.
Melody setahun lebih muda dari Argent, dan aku ingin menceritakan tentang mereka di ceritaku yang selanjutnya.
sekarang, aku harus bersiap untuk mengerjakan hal lain.
sampai nanti!
ramai sekali di sini.
serius, sangat sangat ramai.
ada yang bermain musik di sudut sana. aku sedang menulis di sini. dan ada yang bermain game aneh di sini. ramai memang enak sih, tapi saat memandangi mereka semua aku tahu aku belum menyatu dengan mereka, setidaknya untuk saat ini.
aku baru saja mengira Yashi adalah Massu. oke, itu aneh. mereka sangat berbeda, seratus persen berbeda.
Massu tidak aneh. Yashi sebaliknya. Massu putih. Yashi? hmm… tidak bisa dibilang hitam sih, api begitulah. tapi sepertinya aku harus menunda deskripsi mereka sampai nanti.
di antara kami yang seumur, sepertinya aku yang paling tidak berbaur. selain karena aku memang pendiam, aku datang paling belakangan. baru empat tahun tinggal di sini, tentu agak canggung begitu banyak orang memerhatikan. apalagi di tempat tinggal yang dulu, aku tak punya teman. untunglah orang-orang di sini menyadari kecanggunganku dan membuatku merasa nyaman di sini. aku sungguh merasa beruntung.
tapi di waktu yang sama aku merasa tidak enak kepada paman yang telah merawatku di rumah ini. pamanku sudah membawaku jauh-jauh dari tempat tinggalku yang dulu hanya karena permintaan ayahku. sebenarnya ia bukanlah pamanku, tapi hanya teman lama ayahku. mereka punya hubungan saudara, api sangat jauh. aku merasa tidak pantas memanggilnya “Paman”.
menurut kalian, apa yang harusnya kulakukan?
ngantuk. ngantuk. ngantuk!
kenapa harus ada pengganggu yang namanya ngantuk?
haah. dia mengganggu konsentrasiku yang sedang bagus, nih! membuatku malas kemana-mana, tidak seperti Haze yang malah lagi rajin keliling-keliling.
tapi aku tahu aku harus melanjutkan apa yang telah kumulai.
- tentang teman-temanku. dan aku - bagian 2
oke. bagian dua dimulai.
kali ini aku akan menceritakan tentang seorang temanku — satu di antara dua wanita di antara kami.
namanya Julian.
yah, “Julian” memang nama yang lazim untuk anak laki-laki, dan aku tidak tahu apa yang ada di pikiran kakeknya ketika memberi cucu perempuannya nama itu. yah, itu terserah kakeknya. bukan urusanku. dan aku tidak peduli ia bernama apa — selama bukan “Setan” atau sejenisnya. atau nama-nama aneh yang akan membuatku berpikir, “kenapa ada orang bernama seperti itu?”
mulai untuk Julian.
1. Dia seorang wanita, umurnya 14 tahun — sama sepertiku.
2. tubuhnya tinggi. dia jarang sekali keluar kalau tidak begitu penting. aku tahu apa yang ia lakukan di rumahnya — belajar.
3. oke, aku tidak tahu apa yang harus kutulis di sini.
4. dia berasal dari keluarga baik-baik dan terkenal. keluarga ayah dan ibunya sama-sama keluarga terhormat yang kau takkan dapat membayangkan bagaimana berkuasanya mereka. bisa dibilang, mereka adalah penguasa bayangan di negeri tempatku tinggal ini, juga beberapa negeri tetangganya. kalau suatu saat dia jadi kepala keluarga klannya, aku yakin hal pertama yang ia lakukan adalah melengserkan pemerintahan yang korup hanya dengan menggerakkan jari telunjuknya. hm, aku ingin punya kekuasaan seperti itu.
5. entahlah. aku akan menambahkannya nanti.
cukup untuk hari ini, nanti akan kulanjutkan.
aku baru menyadari sesuatu.
aku belum mengatakan apapun mengenaiku dan teman-temanku bukan?
baiklah, akan kujelaskan satu persatu.
namaku, seperti yang kalian ketahui, adalah Zeith Zach.
aku tinggal di rumah pamanku di sebuah desa kecil di pinggir danau besar, dan ini sudah tahun keempat sejak aku tiba di sini.
selain aku, ada juga sepupu jauhku. namanya Haze.
seumur denganku, dan termasuk satu dari delapan orang yang masih terhitung remaja di desaku.
hey, desaku sangat kecil. jadi jangan kaget kalau kami cuma berdelapan. desa tempatku tinggal ini sangat kecil, rumah yang ada pun tidak sampai seratus. jadi jangan heran kalau penghuninya juga sangat sedikit.
mungkin akan kujelaskan satu persatu.
dan aku yang terakhir.
hm, mulai dari Haze.
1. dia berusia 14 tahun, sama sepertiku.
2. dia tidak memiliki lengan kiri. putus sewaktu dia diserang beruang saat umurnya delapan tahun. atau tujuh. aku tidak begitu ingat.
3. ayahnya sudah meninggal.
4. dia dan ayahnya dipisahkan dari ibunya sebelum dia berumur lima tahun. makanya dia jadi sangat ingin bertemu dengan ibu yang tak ada dalam ingatannya.
5. hm? aku lupa….
akan kulanjutkan nanti.
kenapa harus ada penyakit yang namanya flu di dunia ini?
oke, aku tahu ini memang salahku. tidur tengah malam (yang sebenarnya hampir tiap hari), berkeliaran di luar tanpa jaket meskipun angin berembus kencang, dan… coba tebak? MELOMPAT KE DANAU MALAM-MALAM dan langsung tertidur tanpa berganti baju. yah, aku tahu itu salahku. tapi mau bagaimana lagi? semuanya memang salahku.
doakan saja aku cepat sembuh, oke?
kenyang, kenyang!
makan hari ini cukup membuatku kenyang.
meski tadi sore hujan, tak apalah. apalagi hari ini aku makan bersama teman-teman yang jarang kutemui, walau kami satu tempat tinggal.
tentu saja!
mereka sering bermain waktu kecil, tapi aku baru datang sewaktu berumur sepuluh tahun. tentu saja tidak pernah bermain bersama mereka. sedih? tidak juga. waktu itu aku belum mengerti apa artinya orang lain bagiku. tapi sekarang sangat mengerti. aku juga baru sadar kalau mereka dulu sangat memperhatikan aku.
begini. waktu mereka sedang cerita soal kisah-kisah lama, tiba-tiba aku merasa tidak masuk dalam kelompok mereka. kenapa? karena aku tak tahu satu pun kenangan bersama mereka.
tapi, Haze sepupuku (untungnya dia juga pindah ketika berumur 8 tahun) melirikku dan tiba-tiba berkata,
“kalian semua, kasian kan Zach nggak tau apa-apa.”
dan bagaikan keajaiban, semua anak —-yang notabene cuma berdelapan—- langsung menoleh ke arahku.
dan mulai terdengar gumaman di sana-sini.
“oh iya ya, Zach kan belum ada waktu itu.”
agak sakit hati memang terlupakan, tapi aku tak dapat melupakan senyum manis Julian, temanku, waktu itu.
ia yang selalu terlihat membawa buku tebal ke mana-mana itu meraih tanganku dan berkata, “tapi mulai sekarang kan kita bisa membuat kenangan yang baru bersama-sama, bukan?”
dia, yang jarang tersenyum maupun tertawa itu, baru saja mengatakan sesuatu yang membuat semuanya terdiam!
saat itu, aku merasa jadi orang paling beruntung sedunia.
paman menyuruhku belajar hari ini.
belajar apa? memancing.
dia menyuruhku pergi ke danau bersama sepupu jauhku Haze, yang, untungnya, sudah biasa memancing. hampir saja jatuh kalau saja tidak hati-hati.
mungkin gara-gara tidak bisa tidur tadi malam. atau mungkin karena kurang fokus sampai kehilangan keseimbangan? entahlah.
yah, apapun itu, setidaknya aku tidak jatuh.
dan meskipun tidak mendapat ikan yang terlalu besar, jumlahnya lumayan banyak. sebenarnya kami bisa saja mendapat yang lebih banyak di tengah, namun hampir jatuh ke danau membuatku malas.
apapun itu, yang jelas malam ini kami bisa makan enak.
zeith.zach
Bukan tentang saya, tetapi tentang dia
Page 1 of 2