March 2011
1 post
1 tag
dia. kembali.
kali ini dia kembali. tidak, dia bukan aku. dia adalah dia, dan dia menginginkan sesuatu yang baru di tempat ini.
maka dia datang, dan dia berniat mengubah semuanya. lebih dari setahun telah mengubah hidupnya. ia sekarang hidup dalam dunianya sendiri, dengan berbagai nama dan persona. berinteraksi dengan berbagai orang, yang juga memiliki banyak nama dan persona. tidak di tempat yang berlainan,...
September 2009
3 posts
insomnia episode dua
bukannya susah tidur.
hanya tak mau tidur.
aku harus bangun jam tiga, jadi sepertinya lebih baik kalau aku tetap terjaga daripada harus tidur untuk kemudian bangun lagi beberapa jam kemudian. lagipula, aku bisa tidur siangnya. tak masalah untukku.
tentang teman-temanku. dan aku - bagian 3
kali ini tentang Argent.
aku harus mendahulukan dia sebelum aku lupa, jadi jangan protes, ya?
Argent,...
dua orang baru
beberapa hari yang lalu ada orang baru yang pindah ke desa tempatku tinggal.
ada tiga, sebenarnya. seorang pria tua dan dua orang anaknya.
mereka tak sepenuhnya asing, sih, mereka pernah berkunjung ke sini kira-kira dua kali. istri dari pria tua itu tinggal di sini, dan saat si pria tua itu pensiun dari pekerjaannya, ia memutuskan untuk tinggal di desa saja bersama dengan istrinya untuk...
oke. kali ini lain
ramai sekali di sini.
serius, sangat sangat ramai.
ada yang bermain musik di sudut sana. aku sedang menulis di sini. dan ada yang bermain game aneh di sini. ramai memang enak sih, tapi saat memandangi mereka semua aku tahu aku belum menyatu dengan mereka, setidaknya untuk saat ini.
aku baru saja mengira Yashi adalah Massu. oke, itu aneh. mereka sangat berbeda, seratus persen berbeda.
Massu...
August 2009
7 posts
*yawn*
ngantuk. ngantuk. ngantuk!
kenapa harus ada pengganggu yang namanya ngantuk?
haah. dia mengganggu konsentrasiku yang sedang bagus, nih! membuatku malas kemana-mana, tidak seperti Haze yang malah lagi rajin keliling-keliling.
tapi aku tahu aku harus melanjutkan apa yang telah kumulai.
tentang teman-temanku. dan aku - bagian 2
oke. bagian dua dimulai.
kali ini aku akan menceritakan tentang...
tentang teman-temanku. dan aku.
aku baru menyadari sesuatu.
aku belum mengatakan apapun mengenaiku dan teman-temanku bukan?
baiklah, akan kujelaskan satu persatu.
namaku, seperti yang kalian ketahui, adalah Zeith Zach.
aku tinggal di rumah pamanku di sebuah desa kecil di pinggir danau besar, dan ini sudah tahun keempat sejak aku tiba di sini.
selain aku, ada juga sepupu jauhku. namanya Haze.
seumur denganku, dan termasuk...
flu....
kenapa harus ada penyakit yang namanya flu di dunia ini?
oke, aku tahu ini memang salahku. tidur tengah malam (yang sebenarnya hampir tiap hari), berkeliaran di luar tanpa jaket meskipun angin berembus kencang, dan… coba tebak? MELOMPAT KE DANAU MALAM-MALAM dan langsung tertidur tanpa berganti baju. yah, aku tahu itu salahku. tapi mau bagaimana lagi? semuanya memang salahku.
doakan saja...
kenyang, kenyang!
makan hari ini cukup membuatku kenyang.
meski tadi sore hujan, tak apalah. apalagi hari ini aku makan bersama teman-teman yang jarang kutemui, walau kami satu tempat tinggal.
tentu saja!
mereka sering bermain waktu kecil, tapi aku baru datang sewaktu berumur sepuluh tahun. tentu saja tidak pernah bermain bersama mereka. sedih? tidak juga. waktu itu aku belum mengerti apa...
walau mengantuk, tak bisa tidur
paman menyuruhku belajar hari ini.
belajar apa? memancing.
dia menyuruhku pergi ke danau bersama sepupu jauhku Haze, yang, untungnya, sudah biasa memancing. hampir saja jatuh kalau saja tidak hati-hati.
mungkin gara-gara tidak bisa tidur tadi malam. atau mungkin karena kurang fokus sampai kehilangan keseimbangan? entahlah.
yah, apapun itu, setidaknya aku tidak jatuh.
dan meskipun tidak...
Bukan tentang saya, tetapi tentang dia
– penulis blog ini yang nggak mau dirinya terekspos *ceileh*
dini hari
hening, sangat hening.
tak terdengar apapun selain desau angin di luar sana, yang untungnya cukup keras untuk kudengar hari ini.
yang lainnya sudah tidur sejak tadi, meninggalkanku yang insomnia sendirian di kamar merenungi nasib.
tetapi tak apa. ini sudah lazim terjadi di rumah ini.
duduk sendirian memeluk lutut, hanya memandangi permukaan danau yang tenang di kejauhan.
desa ini memang...