8th August 2009

Post

dini hari

hening, sangat hening.

tak terdengar apapun selain desau angin di luar sana, yang untungnya cukup keras untuk kudengar hari ini.

yang lainnya sudah tidur sejak tadi, meninggalkanku yang insomnia sendirian di kamar merenungi nasib.

tetapi tak apa. ini sudah lazim terjadi di rumah ini.

duduk sendirian memeluk lutut, hanya memandangi permukaan danau yang tenang di kejauhan.

desa ini memang selalu bagini sejak dulu. lewat jam sebelas malam, sudah tak terdengar suara makhluk hidup selain lolongan serigala di kejauhan. juga, kalau beruntung, suara hewan-hewan hutan lainnya, yang biasanya sangat jarang terdengar sampai ke sini.

merenungi nasib? tidak juga.

merenungi keadaan? ya.

aku sejak dulu selalu heran kenapa harus aku yang mengalami semua ini. bukan orang lain yang mungkin bisa lebih tegar menghadapinya. atau kejadian yang menimpa sepupu jauhku Haze. Sampai sekarang aku masih bisa melihat ‘sesuatu’ si wajahnya, sesuatu yang tak dapat disampaikan dengan kata-kata.

aku yang menyadari hal itu, dan hanya aku.

mungkin, suatu saat ia akan menemukan kata-kata yang tepat untuk menceritakan semua yang terjadi. aku bosan menanggapi pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang ingin tahu masa lalu sepupu jauhku itu.

kau mau tahu?

sampai nanti.

selamat malam. atau mungkin selamat pagi. yang jelas, sekarang adalah dini hari.

zeith.zach